Senin, 01 Desember 2008



Para kesatria talo-talo memperagakan kelenturan tubuhnya di hadapan peserta seminar adat lisan nasional IV, yang berlangsung di Benteng Liya, kecamatan Wangi-wangi, Wakatobi, Sultra

Festival Dan Seminar Internasionl Asosiasi Tradisi Lisan IV di Wakatobi (bagian 1)

Sambut Tamu, Makam Malam di Kompleks Benteng Liya

Bupati Wakatobi Ir. Hugua bersama ribuan warganya menyambut sekaligus menjamu malam atau Welcome Dinner peserta peserta Festival dan Seminar Asosiasi Internasional Tradisi Lisan (ATL) Nusantara VI di kompleks Benteng Liya, pada Minggu malam (30/11).

Rustam, Wangi-Wangi

Gemerlap cahaya lampu mewarnai benteng Liya malam itu. Lampu-lampu di pasang di sekitar pepohonan dan rumah-rumah warga. Cahaya lampu itu tidak begitu terang. Namun nuansanya sangat romantis dan cukup memukau perhatian ribuan warga yang hadir malam itu.

Aroma masakan khas Wakatobi yang dibuat dalam berbagai jenis yang diletakkan di atas meja membuat para tamu niler dan ingin segera mencicipinya. Salah makanan khas Wakatobi yang dihidangkan malam itu adalah Kambalu, heloa sira, sate siput laut dan kasuami.

Para tamu yang hadir pada lama itu berasal dari enam negara dan 10 Provinsi yang ada di Indonesia. Turut hadir staf ahli Menteri Pariwisata Muhlis, mantan Menteri Pariwisata I.G. Ardika, pakar Maritim Indonesia Prof. La Ode Masihu Kamaluddin, Bupati Buton L.M Sjafei Kahar dan ketua panitia ATL pusat Prudensia.

Usai santap malam, para tamu disuguhkan berbagai atraksi kesenian daerah. Antara lain parade kerajaan Liya, tarian Lariangi dan musik kecapi. Salah satu atraksi yang mengundang detak kagum adalah memakan kulit kerang atau bahasa daerah disebut Karengke. Atraksi yang tak lazim dilakukukan manusia ini dipertontonkan oleh Larunga bersama isterinya.

Ketua panitia daerah penyelenggara festival dan seminar ATL Ediarto Rusmin BAE dalam laporannya mengatakan, dipilihnya kompleks benteng dan Masjid tertua di Liya sebagai Welcome Dinner karena daerah itu merupakan tempat bersejarah bagi perjuangan masyarakat mempertahankan pulau Wangi-Wangi dari serangan musuh.

Jamuan makan malam Welcome Dinner ini tepat berada di lapis dalam atau pusat benteng. Enam tempat penting di daerah poros ini terdiri dari masjid di arah Barat, baruga diarah Timur, terowongan bawah tanah yang disebut sebagai ”Lia” disebelah Selatan dan baluara di sebelah utara.

”Kita sekarang berada di bagian tengah, disekitar kita adalah makan Djilabu, pembawa Islam pertama di sini dan makan Talo-Talo, seorang ksatria perang kesultanan Buton yang bermarkas Liya,” kata Ediarto Rusmin yang juga wakil bupati Wakatobi.

Ediarto berharap tahun-tahun mendatang akan banyak fesitival yang digelar di daerah ini. Mengingat Wakatobi sebagai salah satu tujuan pariwisata dunia. Kegiatan festival atau semacamnya merupakan salah satu strategi mengairahkan pariwisata di tanah air.

Hugua dalam sambutannya mengatakan ditunjuknya Wakatobi sebagai tuan rumah merupakan kehormatan sekaligus kebangaaan bagi Pemerintah daerah dan masyarakat Wakatobi. Wakatobi memiliki berbagai macam kebudayaan bernilai tinggi yang sampai saat ini tetap terpelihara dengan baik.

Menurut Hugua, penyelenggaraan festival dan seminar Internasional ATL yang pertama kali digelar di luar Jakarta ini memiliki arti yang sangat penting bagi kemajuan daerah Wakatobi. Sebab, kebudayaan merupakan salah aset yang menjadi ciri khas suatu daerah. Kebudayaan merupakan salah obyek yang menarik bagi wisatawan.

”Kita tidak bisa hanya mengandalkan wisata bahari. Tetapi bagaimana wisatawan yang datang ke daerah kita setelah menikmati keindahan bawah laut ada pilihan berikutnya yang dapat dinikmati,” kata Hugua.

Hugua yang tampil dengan dua bahasa yakni Indonesia-Inggris, menyatakan setelah terciptanya Surga di Bawah Laut, maka di darat pun harus demikian. ”Makanya kami membangun bandara Matahora sebagai pintu masuk surga di darat. Jika bandara ini nantinya beroperasi maka imbasnya akan dirasakan langsung oleh masyarakat. Pendapatan masyarakat akan meningkat dan akhirnya sejahtera,” ujarnya.

Sementara itu L.M Sjafei Kahar menyatakan rasa kekagumannya kemajuan yang dicapai Wakatobi saat ini. Jika Wakatobi dulu berada paling belakang, maka sekarang berada paling terdepan di antara semua daerah Buton Raya.

”Ini tidak terlepas kerja keras bupati, wakil bupati dan DPRD Wakatobi dalam membangun daerah ini. Tidak salah jika masyarakat memilih pasangan Hugua dan Ediarto. Mereka berdua adalah pemimpin yang memiliki kreatifitas dan jaringan yang luas hingga ke luar negeri,” kata Sjafei.(***)